Selasa, 10 Januari 2017

Silenced / The Crucible (2011)

~ “Hal terbaik dan terindah di dunia yang tak dapat dilihat dan disentuh, hanya bisa dirasakan dengan hati.” ~




Udah lama, ya, saya nggak update blog ini. Hehe... Maaf. Karena kesibukan di dunia nyata, blog ini jadi amat sangat terbengkalai. Tapi tenang saja. Saya akan berusaha untuk rajin update. Yah, mulai dari membiasakan diri menulis lagi. Apapun itu.

Kali ini saya akan mengulas film dari Korea Selatan. Bukan film baru, sih. Tapi memang filmnya baru selesai saya tonton. Barusan saja. Kalau bukan karena saya sedang tergila-gila dengan drama Korea Goblin dan juga dengan para pemainnya, saya tidak akan menemukan film ini.

Silenced aka The Crucible dirilis secara resmi di negeri asalnya pada tanggal 22 September 2011. See? Ini bukan film baru. Mungkin sudah banyak yang memberikan review mengenai film ini. Dan saya akan menambahkan deretan review tersebut. Dari yang saya baca, Silenced merupakan adaptasi dari novel berjudul Dokani yang ditulis oleh Kong Ji-Young dan diterbitkan di tahun 2009. Informasi yang saya baca juga, novelnya sendiri terinspirasi dari kisah nyata yang terjadi di sekolah tuna rungu di Gwangju, Korea Selatan.

Film ini diawali dengan perjalanan Kang In-Ho (Gong Yoo) ke kota Mujin karena diterima sebagai guru seni di sekolah tuna rungu Ja Ae. Dalam perjalanannya, ia mengalami kecelakaan kecil sehingga menyebabkan mobilnya harus diperbaiki. Di sanalah In-Ho dan Seo Yoo-Jin (Jung Yu-Mi) pertama kali bertemu. Yoo-Jin bekerja di kantor HAM kota Mujin.

Ini bukanlah kisah percintaan. Jadi jangan pernah berharap ada adegan romantis antara In-Ho dan Yoo-Jin. Fokus film ini adalah tentang pelecehan yang dialami para siswa tuna rungu selama belajar di sekolah Ja Ae. Ada tiga siswa yang kisahnya akan diceritakan di sini, yakni Yeon-Doo (Kim Hyun-Soo), Yoo-Ri (Jung In-Soo), dan Min-Soo (Baek Seung-Hwan). Dan kisah mereka bertiga benar-benar menyayat hati dan membuat saya berpikir “kenapa ada orang setega itu pada mereka?”. Lebih miris lagi, pelakunya tak lain adalah guru di sekolah tersebut. Ada beberapa adegan yang bahkan saya tidak tega menontonnya. Padahal ini hanyalah film. Tak terbayang bagaimana kejadian nyata yang dialami para siswa itu.

Banyak adegan yang tak terlupakan dalam film ini. Tapi yang paling berkesan bagi saya ada dua. Yang pertama adalah saat In-Ho berdiri di depan pintu ruang kepala sekolah sambil membawa pot bunga di tangannya. Saat itu, ia mendengar dan melihat sendiri kekerasan yang menimpa salah satu muridnya. Ia bimbang antara mengabaikan dan menutup mata akan kejadian tersebut atau menuruti hati nuraninya yang sejak awal menginginkan keadilan bagi siswanya. Namun akhirnya, hati nuraninya menang. Bersama Yoo-Jin, ia menuntut keadilan untuk para siswa korban kekerasan dan pelecehan di sana.

Adegan kedua dan menjadi hal yang paling tidak diinginkan untuk terjadi adalah ketika para penjahat—orang-orang jahat yang bersalah dalam kasus ini—mendapat hukuman sangat ringan (tidak sampai satu tahun). Betapa hancurnya hati Yeon-Doo, Yoo-Ri, dan Min-Soo melihat orang-orang yang telah menghinakan mereka hanya mendapat hukuman seperti itu. Tak sebanding dengan proses peradilan yang harus mereka lalui.

Film ini mengajarkan saya untuk menghargai orang lain apapun kondisinya. Karena jika bisa memilih, tentu mereka ingin terlahir sempurna. Besarkan hati dan belajarlah untuk menerima kekurangan diri sendiri dan orang lain karena tidak ada manusia yang sempurna, bukan? Memang sulit. Saya akui itu. Tapi bukan berarti tidak mungkin.

Lastly, saya beri nilai 10 untuk Silenced. Banyak pesan moral yang disampaikan melalui film ini. Dan juga siapkan hati serta tissue. Siapa tahu butuh.

Nb: Untuk kisah aslinya, kalian bisa cari sendiri. Search aja Gwangju, Inhwa School.


Sumber: http://asianwiki.com/Silenced_(Korean_Movie)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar