~ “Hal terbaik dan terindah di dunia yang tak dapat dilihat dan disentuh, hanya bisa dirasakan dengan hati.” ~
Udah
lama, ya, saya nggak update blog ini. Hehe... Maaf. Karena kesibukan di
dunia nyata, blog ini jadi amat sangat terbengkalai. Tapi tenang saja. Saya
akan berusaha untuk rajin update. Yah, mulai dari membiasakan diri
menulis lagi. Apapun itu.
Kali
ini saya akan mengulas film dari Korea Selatan. Bukan film baru, sih. Tapi
memang filmnya baru selesai saya tonton. Barusan saja. Kalau bukan karena saya
sedang tergila-gila dengan drama Korea Goblin dan juga dengan para pemainnya,
saya tidak akan menemukan film ini.
Silenced
aka The Crucible dirilis secara resmi di negeri asalnya pada tanggal 22
September 2011. See? Ini bukan film baru. Mungkin sudah banyak yang
memberikan review mengenai film ini. Dan saya akan menambahkan deretan review
tersebut. Dari yang saya baca, Silenced merupakan adaptasi dari novel berjudul
Dokani yang ditulis oleh Kong Ji-Young dan diterbitkan di tahun 2009. Informasi
yang saya baca juga, novelnya sendiri terinspirasi dari kisah nyata yang
terjadi di sekolah tuna rungu di Gwangju, Korea Selatan.
Film
ini diawali dengan perjalanan Kang In-Ho (Gong Yoo) ke kota Mujin karena
diterima sebagai guru seni di sekolah tuna rungu Ja Ae. Dalam perjalanannya, ia
mengalami kecelakaan kecil sehingga menyebabkan mobilnya harus diperbaiki. Di
sanalah In-Ho dan Seo Yoo-Jin (Jung Yu-Mi) pertama kali bertemu. Yoo-Jin
bekerja di kantor HAM kota Mujin.
Ini
bukanlah kisah percintaan. Jadi jangan pernah berharap ada adegan romantis
antara In-Ho dan Yoo-Jin. Fokus film ini adalah tentang pelecehan yang dialami
para siswa tuna rungu selama belajar di sekolah Ja Ae. Ada tiga siswa yang kisahnya
akan diceritakan di sini, yakni Yeon-Doo (Kim Hyun-Soo), Yoo-Ri (Jung
In-Soo), dan Min-Soo (Baek Seung-Hwan). Dan kisah mereka bertiga
benar-benar menyayat hati dan membuat saya berpikir “kenapa ada orang setega
itu pada mereka?”. Lebih miris lagi, pelakunya tak lain adalah guru di
sekolah tersebut. Ada beberapa adegan yang bahkan saya tidak tega menontonnya.
Padahal ini hanyalah film. Tak terbayang bagaimana kejadian nyata yang dialami
para siswa itu.
Banyak
adegan yang tak terlupakan dalam film ini. Tapi yang paling berkesan bagi saya
ada dua. Yang pertama adalah saat In-Ho berdiri di depan pintu ruang kepala
sekolah sambil membawa pot bunga di tangannya. Saat itu, ia mendengar dan
melihat sendiri kekerasan yang menimpa salah satu muridnya. Ia bimbang antara
mengabaikan dan menutup mata akan kejadian tersebut atau menuruti hati
nuraninya yang sejak awal menginginkan keadilan bagi siswanya. Namun akhirnya, hati
nuraninya menang. Bersama Yoo-Jin, ia menuntut keadilan untuk para siswa korban
kekerasan dan pelecehan di sana.
Adegan
kedua dan menjadi hal yang paling tidak diinginkan untuk terjadi adalah ketika para
penjahat—orang-orang jahat yang bersalah dalam kasus ini—mendapat hukuman
sangat ringan (tidak sampai satu tahun). Betapa hancurnya hati Yeon-Doo,
Yoo-Ri, dan Min-Soo melihat orang-orang yang telah menghinakan mereka hanya
mendapat hukuman seperti itu. Tak sebanding dengan proses peradilan yang harus
mereka lalui.
Film
ini mengajarkan saya untuk menghargai orang lain apapun kondisinya. Karena jika
bisa memilih, tentu mereka ingin terlahir sempurna. Besarkan hati dan
belajarlah untuk menerima kekurangan diri sendiri dan orang lain karena tidak
ada manusia yang sempurna, bukan? Memang sulit. Saya akui itu. Tapi bukan
berarti tidak mungkin.
Lastly,
saya beri nilai 10 untuk Silenced. Banyak pesan moral yang disampaikan melalui
film ini. Dan juga siapkan hati serta tissue. Siapa tahu butuh.
Nb:
Untuk kisah aslinya, kalian bisa cari sendiri. Search aja Gwangju, Inhwa
School.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar