~ “Setiap kita memiliki seseorang yang tersembunyi di dasar hati. Dan ketika kita berpikir tentang dia, kita akan merasa seperti sakit di dalam. Tapi kita masih ingin mempertahankan orang tersebut.” ~
Kali
ini saya akan mereview film dari Negeri Gajah Putih. Duet antara dua sutradara,
Puttipong Pormsaka Na-Sakonnakorn dan Wasin Pokpong ini telah menghasilkan
sebuah film bergenre komedi romantis. First Love (A Little Thing Called Love)
dirilis bulan Agustus 2010 di negeri asalnya, Thailand. Bisa dibilang film ini
merupakan cikal bakal merebaknya film-film Thailand di Indonesia, seperti Hello
Stranger, Suckseed, My Name is Love, dan masih banyak lagi.
Kisah
film ini dimulai ketika Nam (Pimchanok Lerwisetpibol) yang saat itu
duduk di kelas M.1 (1 SMP) jatuh cinta pada seniornya di M.4 (1 SMA), Shone (Mario
Maurer). Nam mempunyai wajah yang tidak menarik. Ia mencoba berbagai cara
agar bisa dekat dengan Shone, termasuk merubah total penampilannya. Perlahan
Nam mulai dikenal dan ia menjadi salah satu gadis cantik di sekolahnya. Kecantikannya
juga menarik perhatian Top, sahabat Shone. Dan dimulailah kisah cinta segitiga
antara Shone, Nam, dan Top.
Inti
cerita film ini sangat sederhana dan terkesan klise, yaitu tentang perjuangan
seorang gadis (maaf) buruk rupa demi mendapatkan perhatian orang yang
disukainya. Namun pengemasan yang bagus, membuat film ini layak untuk ditonton.
Komposisi komedi khas Thailand dan romansa cinta Nam, cukup untuk menghidupkan
kisah film berdurasi 118 menit ini. Akting para pemainnya juga begitu apik.
Yang membuat saya salut adalah Nam. Sang sutradara dan penata rias benar-benar
hebat menciptakan tokoh ini. Nam yang tidak menarik dan Nam yang cantik, saya
mengira mereka adalah dua orang berbeda.
Tapi setelah saya perhatikan baik-baik, mereka adalah orang yang sama,
yakni Pimchanok Lerwisetpibol.
Ada
dua adegan yang tak terlupakan dalam film ini. Keduanya berada di penghujung
film. Yang pertama adalah adegan di mana Nam menyatakan cintanya kepada Shone.
Nam mengungkapkan semua yang ada di hatinya, termasuk alasannya menjadi cantik
dan pintar demi Shone. Kala itu, Shone hanya bisa menatap Nam dengan perasaan
bersalah karena ternyata dia sudah jadian dengan salah satu teman sekelasnya,
Pin. Jujur, saya sempat menitikkan air mata melihat adegan ini. Teringat seberapa
banyak usaha Nam untuk menarik perhatian Shone. Dan semuanya berakhir sia-sia.
Lanjut
ke adegan kedua. Adegan ini merupakan lanjutan dari adegan pertama yang saya
sebutkan di atas. Malamnya setelah Shone sampai di rumah, hal pertama yang
ditujunya adalah lemari pendingin. Ia mengambil kotak cokelat—yang baru saya
sadari setelah kali ketiga saya menonton film ini—dari Nam. Lebih hebat lagi
ketika Shone membuka sebuah buku yang di dalamnya berisi foto Nam. Satu kata.
Wow. Saya tak menyangka jika Shone sudah lama menyukai Nam, bahkan ketika Nam
masih menggunakan kacamata tebalnya. Twist di akhir film ini sangat
mengena untuk saya.
Film
ini memuaskan saya walaupun ada yang kurang pas di hati saya. Saya tidak
terlalu suka adegan di mana Nam mulai dekat dengan Top. Jelas-jelas Nam tidak
suka pada Top, tapi anehnya ia kemana-mana selalu bersama Top yang notabene
adalah sahabat Shone. Kenapa ia tidak langsung saja mendekati Shone? Padahal ia
mempunyai kesempatan untuk itu. Yah, jika memang begitu, mungkin twist
ceritanya akan kurang terasa greget.
Akhirnya
saya memberikan nilai 9 dari 10. Saya merekomendasikan film ini untuk ditonton.
Ceritanya yang ringan dan komedinya yang unik, membuat penontonnya tak perlu
banyak berpikir. Just enjoy the story.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar