Minggu, 23 Februari 2014

First Love - A Little Thing Called Love (2010)

~ “Setiap kita memiliki seseorang yang tersembunyi di dasar hati. Dan ketika kita berpikir tentang dia, kita akan merasa seperti sakit di dalam. Tapi kita masih ingin mempertahankan orang tersebut.” ~




Kali ini saya akan mereview film dari Negeri Gajah Putih. Duet antara dua sutradara, Puttipong Pormsaka Na-Sakonnakorn dan Wasin Pokpong ini telah menghasilkan sebuah film bergenre komedi romantis. First Love (A Little Thing Called Love) dirilis bulan Agustus 2010 di negeri asalnya, Thailand. Bisa dibilang film ini merupakan cikal bakal merebaknya film-film Thailand di Indonesia, seperti Hello Stranger, Suckseed, My Name is Love, dan masih banyak lagi.

Kisah film ini dimulai ketika Nam (Pimchanok Lerwisetpibol) yang saat itu duduk di kelas M.1 (1 SMP) jatuh cinta pada seniornya di M.4 (1 SMA), Shone (Mario Maurer). Nam mempunyai wajah yang tidak menarik. Ia mencoba berbagai cara agar bisa dekat dengan Shone, termasuk merubah total penampilannya. Perlahan Nam mulai dikenal dan ia menjadi salah satu gadis cantik di sekolahnya. Kecantikannya juga menarik perhatian Top, sahabat Shone. Dan dimulailah kisah cinta segitiga antara Shone, Nam, dan Top.

Inti cerita film ini sangat sederhana dan terkesan klise, yaitu tentang perjuangan seorang gadis (maaf) buruk rupa demi mendapatkan perhatian orang yang disukainya. Namun pengemasan yang bagus, membuat film ini layak untuk ditonton. Komposisi komedi khas Thailand dan romansa cinta Nam, cukup untuk menghidupkan kisah film berdurasi 118 menit ini. Akting para pemainnya juga begitu apik. Yang membuat saya salut adalah Nam. Sang sutradara dan penata rias benar-benar hebat menciptakan tokoh ini. Nam yang tidak menarik dan Nam yang cantik, saya mengira mereka adalah dua orang berbeda.  Tapi setelah saya perhatikan baik-baik, mereka adalah orang yang sama, yakni Pimchanok Lerwisetpibol.

Ada dua adegan yang tak terlupakan dalam film ini. Keduanya berada di penghujung film. Yang pertama adalah adegan di mana Nam menyatakan cintanya kepada Shone. Nam mengungkapkan semua yang ada di hatinya, termasuk alasannya menjadi cantik dan pintar demi Shone. Kala itu, Shone hanya bisa menatap Nam dengan perasaan bersalah karena ternyata dia sudah jadian dengan salah satu teman sekelasnya, Pin. Jujur, saya sempat menitikkan air mata melihat adegan ini. Teringat seberapa banyak usaha Nam untuk menarik perhatian Shone. Dan semuanya berakhir sia-sia.

Lanjut ke adegan kedua. Adegan ini merupakan lanjutan dari adegan pertama yang saya sebutkan di atas. Malamnya setelah Shone sampai di rumah, hal pertama yang ditujunya adalah lemari pendingin. Ia mengambil kotak cokelat—yang baru saya sadari setelah kali ketiga saya menonton film ini—dari Nam. Lebih hebat lagi ketika Shone membuka sebuah buku yang di dalamnya berisi foto Nam. Satu kata. Wow. Saya tak menyangka jika Shone sudah lama menyukai Nam, bahkan ketika Nam masih menggunakan kacamata tebalnya. Twist di akhir film ini sangat mengena untuk saya.

Film ini memuaskan saya walaupun ada yang kurang pas di hati saya. Saya tidak terlalu suka adegan di mana Nam mulai dekat dengan Top. Jelas-jelas Nam tidak suka pada Top, tapi anehnya ia kemana-mana selalu bersama Top yang notabene adalah sahabat Shone. Kenapa ia tidak langsung saja mendekati Shone? Padahal ia mempunyai kesempatan untuk itu. Yah, jika memang begitu, mungkin twist ceritanya akan kurang terasa greget.

Akhirnya saya memberikan nilai 9 dari 10. Saya merekomendasikan film ini untuk ditonton. Ceritanya yang ringan dan komedinya yang unik, membuat penontonnya tak perlu banyak berpikir. Just enjoy the story.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar