~ “The music is all around us. All you have to do is listen.” ~
Sebuah
film lawas karya Kirsten Sheridan menjadi awal review saya di blog ini. Film yang
dirilis bulan November 2007, mengambil genre drama musikal keluarga. Karena
merupakan drama musikal, tentu saja nuansa musik benar-benar terasa dalam film berdurasi
113 menit ini. Awalnya saya tidak tertarik untuk menonton August Rush, walaupun
teman saya sudah mengatakan bahwa film ini bagus. Saya tidak terlalu suka
dengan film bergenre drama terutama dari Negeri Paman Sam. Banyak film drama
yang alurnya justru membuat saya bingung. Namun karena stok film saya sudah
menipis, August Rush yang sudah seminggu teronggok manis di laptop, akhirnya
saya tonton juga. Dan kesan saya setelah selesai menontonnya adalah “It’s an
amazing movie!”.
Film
ini sendiri mengisahkan tentang seorang bocah lelaki bernama Evan Taylor (Freddie
Highmore) yang diberi anugrah ‘musik’. Ia dapat mendengar suara-suara di
sekitarnya menjadi alunan musik nan indah. Kelebihannya itu diperolehnya dari
kedua orangtuanya, Lyla Novacek (Keri Russell) yang merupakan pemain
cello dan Louis Connelly (Jonathan Rhys Meyers), seorang gitaris dan
vokalis band. Kisah ini dimulai ketika Lyla pertama kali bertemu dengan Louis
setelah mengikuti alunan musik dari seorang musisi jalanan. Namun sayang,
mereka harus berpisah dan hidup dalam kehidupannya masing-masing. Lyla hamil.
Mengetahui itu, sang ayah tidak tinggal diam. Ia berusaha memisahkan ibu dan
anak tersebut dengan menyerahkan bayi Lyla (Evan Taylor) yang baru
dilahirkannya ke panti asuhan. Sebelas tahun kemudian, Evan Taylor merasa jika
orangtuanya tidak benar-benar membuangnya. Ia yakin orangtuanya sedang
mencarinya. Jika bukan mereka yang menemukannya, maka Evan yang akan menemukannya.
Melalui musik yang didengarnya, Evan Taylor memulai perjalanannya ke New York
untuk mencari kedua orangtuanya.
Musik-musik
yang disajikan dalam film ini, membuka mata saya bahwa musik dapat ditemukan di
manapun. Mulai dari kebisingan jalan raya sampai permainan bola basket dapat
menjadi alunan musik yang indah. Akting para pemainnya terlihat begitu apik
walaupun terkadang saya sedikit bosan dengan raut wajah Evan Taylor yang
terkesan datar. Alur ceritanya juga terasa begitu hidup. Percakapan yang panjang
digantikan dengan musik yang ditempatkan di waktu yang tepat. Tidak ada
percakapan yang menjenuhkan. Saya menyebutnya sebagai ‘komposisi yang pas’. Bagi
saya, ini menjadi poin penting karena saya tidak suka dengan percakapan yang
tidak to the point dan terkesan berputar-putar.
Ada
tiga adegan yang paling saya sukai. Yang pertama adalah ketika Lyla Novacek
mengetahui bahwa putranya masih hidup. Perjuangan Lyla untuk mencari keberadaan
putranya seolah mengingatkan saya dengan kalimat ‘Kasih Ibu Sepanjang Masa’. Akting
Keri Russell patut diacungi jempol untuk perannya tersebut.
Adegan
kedua adalah ketika tanpa sengaja August Rush (Evan Taylor) bertemu dengan
Louis Connelly. Tidak ada yang tahu jika mereka adalah ayah dan anak. Berterima
kasihlah pada musik karena chemistry ayah dan anak tersebut berhasil
diperoleh melalui duel gitar yang dilakukan Louis dan August. Permainan gitar
mereka sangat keren dan dengan cara yang unik.
Adegan
terakhir adalah adegan pemungkas. Ini adalah adegan dimana konser August
diadakan. Melalui konser yang bertajuk ‘August Rhapsody in C Major’, ia
hanya ingin didengar orang tuanya dan memanggilnya kembali padanya. Sebuah
keinginan sederhana yang melahirkan karya hebat. Dan itu berhasil. Orang tuanya
mendengarnya. Pertemuan keluarga yang sudah lebih dari sebelas tahun terpisah
ini, tak ayal membuat saya meneteskan air mata. Sebuah perjuangan yang berakhir
bahagia, bukan?
Ada
satu hal lagi yang membuat saya sedikit bingung ketika menontonnya pertama
kali. Film ini mengambil alur cerita flash-back. Di awal cerita, kisah
masa lalu Louis—Lyla berkali-kali ditampilkan bergantian dengan masa depan
Louis, Lyla, dan Evan. Bagi orang yang pertama kali menonton film dengan alur
seperti ini, tentu saja film ini terkesan membingungkan dan ujung-ujungnya jadi
malas menontonnya. Tapi bagi saya, alur seperti ini sangat tepat karena saya
tidak perlu mengulang-ulang kisahnya jika ada bagian yang terlupakan, biasanya
kisah masa lalunya.
Overall,
saya memberi August Rush nilai yang sempurna yaitu 10. Film ini merupakan film
yang highly recommended untuk ditonton. Banyak nilai positif yang dapat diambil
di setiap kisahnya. Komposisi musiknya yang sangat apik, menjadikannya sayang
untuk dilewatkan. Mengutip ucapan August Rush, “Musik ada di sekitar kita. Yang
harus kau lakukan adalah mendengar.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar