Kamis, 30 Januari 2014

August Rush (2007)

~ “The music is all around us. All you have to do is listen.” ~




Sebuah film lawas karya Kirsten Sheridan menjadi awal review saya di blog ini. Film yang dirilis bulan November 2007, mengambil genre drama musikal keluarga. Karena merupakan drama musikal, tentu saja nuansa musik benar-benar terasa dalam film berdurasi 113 menit ini. Awalnya saya tidak tertarik untuk menonton August Rush, walaupun teman saya sudah mengatakan bahwa film ini bagus. Saya tidak terlalu suka dengan film bergenre drama terutama dari Negeri Paman Sam. Banyak film drama yang alurnya justru membuat saya bingung. Namun karena stok film saya sudah menipis, August Rush yang sudah seminggu teronggok manis di laptop, akhirnya saya tonton juga. Dan kesan saya setelah selesai menontonnya adalah “It’s an amazing movie!”.

Film ini sendiri mengisahkan tentang seorang bocah lelaki bernama Evan Taylor (Freddie Highmore) yang diberi anugrah ‘musik’. Ia dapat mendengar suara-suara di sekitarnya menjadi alunan musik nan indah. Kelebihannya itu diperolehnya dari kedua orangtuanya, Lyla Novacek (Keri Russell) yang merupakan pemain cello dan Louis Connelly (Jonathan Rhys Meyers), seorang gitaris dan vokalis band. Kisah ini dimulai ketika Lyla pertama kali bertemu dengan Louis setelah mengikuti alunan musik dari seorang musisi jalanan. Namun sayang, mereka harus berpisah dan hidup dalam kehidupannya masing-masing. Lyla hamil. Mengetahui itu, sang ayah tidak tinggal diam. Ia berusaha memisahkan ibu dan anak tersebut dengan menyerahkan bayi Lyla (Evan Taylor) yang baru dilahirkannya ke panti asuhan. Sebelas tahun kemudian, Evan Taylor merasa jika orangtuanya tidak benar-benar membuangnya. Ia yakin orangtuanya sedang mencarinya. Jika bukan mereka yang menemukannya, maka Evan yang akan menemukannya. Melalui musik yang didengarnya, Evan Taylor memulai perjalanannya ke New York untuk mencari kedua orangtuanya.

Musik-musik yang disajikan dalam film ini, membuka mata saya bahwa musik dapat ditemukan di manapun. Mulai dari kebisingan jalan raya sampai permainan bola basket dapat menjadi alunan musik yang indah. Akting para pemainnya terlihat begitu apik walaupun terkadang saya sedikit bosan dengan raut wajah Evan Taylor yang terkesan datar. Alur ceritanya juga terasa begitu hidup. Percakapan yang panjang digantikan dengan musik yang ditempatkan di waktu yang tepat. Tidak ada percakapan yang menjenuhkan. Saya menyebutnya sebagai ‘komposisi yang pas’. Bagi saya, ini menjadi poin penting karena saya tidak suka dengan percakapan yang tidak to the point dan terkesan berputar-putar.
Ada tiga adegan yang paling saya sukai. Yang pertama adalah ketika Lyla Novacek mengetahui bahwa putranya masih hidup. Perjuangan Lyla untuk mencari keberadaan putranya seolah mengingatkan saya dengan kalimat ‘Kasih Ibu Sepanjang Masa’. Akting Keri Russell patut diacungi jempol untuk perannya tersebut.

Adegan kedua adalah ketika tanpa sengaja August Rush (Evan Taylor) bertemu dengan Louis Connelly. Tidak ada yang tahu jika mereka adalah ayah dan anak. Berterima kasihlah pada musik karena chemistry ayah dan anak tersebut berhasil diperoleh melalui duel gitar yang dilakukan Louis dan August. Permainan gitar mereka sangat keren dan dengan cara yang unik.

Adegan terakhir adalah adegan pemungkas. Ini adalah adegan dimana konser August diadakan. Melalui konser yang bertajuk ‘August Rhapsody in C Major’, ia hanya ingin didengar orang tuanya dan memanggilnya kembali padanya. Sebuah keinginan sederhana yang melahirkan karya hebat. Dan itu berhasil. Orang tuanya mendengarnya. Pertemuan keluarga yang sudah lebih dari sebelas tahun terpisah ini, tak ayal membuat saya meneteskan air mata. Sebuah perjuangan yang berakhir bahagia, bukan?

Ada satu hal lagi yang membuat saya sedikit bingung ketika menontonnya pertama kali. Film ini mengambil alur cerita flash-back. Di awal cerita, kisah masa lalu Louis—Lyla berkali-kali ditampilkan bergantian dengan masa depan Louis, Lyla, dan Evan. Bagi orang yang pertama kali menonton film dengan alur seperti ini, tentu saja film ini terkesan membingungkan dan ujung-ujungnya jadi malas menontonnya. Tapi bagi saya, alur seperti ini sangat tepat karena saya tidak perlu mengulang-ulang kisahnya jika ada bagian yang terlupakan, biasanya kisah masa lalunya.

Overall, saya memberi August Rush nilai yang sempurna yaitu 10. Film ini merupakan film yang highly recommended untuk ditonton. Banyak nilai positif yang dapat diambil di setiap kisahnya. Komposisi musiknya yang sangat apik, menjadikannya sayang untuk dilewatkan. Mengutip ucapan August Rush, “Musik ada di sekitar kita. Yang harus kau lakukan adalah mendengar.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar