Minggu, 01 November 2015

Ada Apa Dengan Cinta? (2002)

~ “Asal lo tahu, persahabatan kita juga gak main-main.” ~



Siapa yang belum pernah menonton Ada Apa Dengan Cinta (AADC) atau bahkan belum pernah mendengar namanya? Jika kalian ngaku pecinta film, belum afdol rasanya jika belum pernah menonton film paling fenomenal sepanjang sejarah perfilman Indonesia ini. Bagaimana tidak? AADC disebut-sebut sebagai salah satu alasan diadakannya kembali FFI setelah lama vakum. 




Ada Apa Dengan Cinta dirilis pada Februari 2002. Kemampuan Rudi Soedjarwo tak perlu diragukan lagi karena berhasil melahirkan sebuah karya yang begitu apik. Alur cerita yang menarik serta didukung akting para pemainnya yang two thumbs banget, tentu menjadi alasan mengapa film ini begitu fenomenal. Siapa, sih, yang tak kenal Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra? Film inilah yang mengantarkan keduanya menjadi salah satu artis bertalenta di Indonesia. Saya sendiri selalu excited tiap menonton film-film mereka yang lain.


Film ini menceritakan tentang persahabatan Cinta (Dian Sastrowardoyo), Alya (Ladya Cheryl), Maura (Titi Kamal), Milly (Sissy Priscillia), dan Carmen (Adinia Wirasti) yang tergabung dalam ekstrakurikuler Majalah Dinding (Mading). Cinta yang cantik dan suka menulis puisi, Alya yang memiliki keluarga buruk karena sering dipukuli ayahnya, Maura yang centil dan paling up to date tentang fashion, Milly yang polos dan telat mikir, dan Carmen yang tomboi. Mereka berlima memiliki karakter berbeda dan tentu saja menarik jika kelimanya bergabung menjadi satu. Nah, mereka mempunyai sebuah buku yang dinamakan Buku Curhat yang berisi janji persahabatan dan curhatan-curhatan mereka. 

Kisah dimulai dengan Alya yang memperlihatkan memar di tubuhnya akibat mendapat pukulan dari ayahnya. Cinta, Maura, Milly, dan Karmen pun menghibur Alya. Lalu, Cinta menunjukkan puisi yang akan dikirimkannya ke lomba puisi tahunan di sekolahnya yang mendapat pujian dari teman-temannya. Saat pengumuman, hampir semua siswa menyoraki Cinta karena Cinta adalah langganan pemenang di lomba tahunan tersebut. Tapi ternyata, Rangga (Nicholas Saputra)-lah pemenangnya. Tentu, Cinta kecewa. Namun, dia mengakui jika puisi buatan Rangga memang bagus. Saat Cinta ingin wawancara dengan Rangga mengenai kemenangannya, Rangga malah menolak mentah-mentah permintaan Cinta. Rangga bahkan berkata bila dia tidak pernah mengirim puisi. Dan, dimulailah kisah Rangga dan Cinta.

Saya tidak ingat kapan pertama kali menonton film ini. Yang jelas, saat film ini dirilis, saya masih mengenakan seragam putih-merah alias masih SD. Saya tidak menontonnya di bioskop, tapi di TV, yang untungnya, ada yang mau menayangkannya. Yah maklum, di kota kecil saya tidak ada bioskop dan saya masih unyu-unyu buat masuk ke sana. Hehe... Tapi, saya benar-benar suka soundtrack filmnya. Bisa dibilang, saya pengen nonton karena soundtrack filmnya. Saking lamanya nggak nonton ini film, saya sampai lupa ceritanya gimana. Baru penasaran lagi pas LINE buat mini dramanya. Langsung deh dicari filmnya.

Adegan yang berkesan... Apa, ya? Salah satunya, saat persahabatan Cinta diuji. Alya yang mencoba bunuh diri dan kebohongan Cinta yang terbongkar yang berakibat dirinya dimusuhi teman-temannya yang lain. Masalah ini membuat Cinta galau dan bingung memilih teman-temannya ataukah Rangga. Pada akhirnya, dia meninggalkan Rangga dan kembali kepada teman-temannya. 

Sebenarnya, yang membuat adegan ini berkesan adalah arti pentingnya sebuah persahabatan dan betapa berartinya kehadiran sahabat di hidup seseorang. Namun, bukan berarti rasa sayang Cinta ke Rangga nggak penting, lho. Belum lama ini saya baru sadar pengaruh cinta di kehidupan remaja. Bagi orang dewasa, mereka mungkin menganggap perasaan remaja tak serius dan dipandang sebelah mata. Tapi bagi para remaja, perasaan yang mereka rasakan bukanlah main-main. Coba ingat-ingat, deh, masa remaja dulu?

Adegan berkesan kedua ada di akhir cerita, yaitu saat Cinta mengejar-ngejar Rangga di bandara. Di sana, Cinta mengungkapkan rasa sayangnya pada Rangga, begitu pun dengan Rangga yang mengungkapkan perasaannya pada Cinta. Yah, walaupun mereka tetap harus berpisah. Yang membuat saya suka bagian ini karena ending-nya yang memberi kesempatan pada penonton, terutama saya, untuk membayangkan sendiri kelanjutan kisah mereka. Dan, berhubung sekuelnya sedang dibuat (saat tulisan ini dipublish, sekuel film ini, yakni Ada Apa Dengan Cinta 2, baru memulai proses syutingnya), ayo tebak-tebakan bagaimana cerita selanjutnya. 

AADC mengambil cerita kehidupan remaja dengan segala konflik yang mewarnainya. Tidak hanya kisah Rangga-Cinta saja yang menjadi fokus cerita, tetapi juga tentang persahabatan Cinta dan teman-temannya. Yang sedikit mengganggu saya adalah bagian Rangga dan Cinta yang beberapa kali musuhan-baikan. Saya tahu, tujuannya untuk membangun chemistry keduanya. Hanya, alasan pertengkaran mereka saja yang kurang pas aja buat saya. Tapi, saya tetap suka kok. Apalagi akting dan chemistry keduanya yang oke punya. 

Hmm... Saya kasih nilai 10 alias sempurna untuk film ini. Highly recommended-lah. Ceritanya ringan namun berisi. Pesan yang ingin disampaikan pun tersampai dengan baik ke penonton. Tonton, deh. Dan tunggu sekuelnya di tahun 2016.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar