Selasa, 03 November 2015

Fiksi (2008)

~ “Semua kejadian ada tujuannya.” ~





Saya baru ngeh ada film Indonesia berjudul Fiksi. Apalagi film ini bukan kategori film baru. Tahun 2008, tujuh tahun yang lalu. Ke mana saja saya selama tujuh tahun sampai-sampai nggak tahu keberadaan film ini? Saya ini memang agak kudet kalau soal film Indonesia. Gara-garanya, sih, makin merebaknya judul-judul film aneh yang membuat minat saya hilang sama sekali buat menontonnya. Tapi, sekarang udah banyak yang bagus kok filmya. Dulu juga ada. Cuma kalah gaungnya sama film yang judulnya aneh-aneh itu. Hehe...

Seperti yang saya bilang, film Fiksi dirilis pada Juni 2008 dan disutradarai oleh Mouly Surya. Saya, sih, nggak tahu karya Mouly yang lain. Tapi dari info yang saya baca, film Fiksi ini adalah karya pertama Mouly yang langsung mengantarkannya memperoleh penghargaan sebagai sutradara terbaik. Wah, hebat. 

Film Fiksi sendiri berdurasi 110 menit dan mengambil tema berbeda dari yang lain. Thriller psikologi. Kisahnya dimulai dari rumah Alisha (Ladya Cheryl), di mana dia hanya tinggal bersama seorang pembantu dan seorang sopir (merangkap bodyguard juga kayaknya). Ayahnya sibuk dan jarang pulang. Sementara, ibunya sudah lama meninggal. Bunuh diri dengan cara menembakkan kepalanya menggunakan pistol tepat di hadapan Alisha kecil. Kehidupan Alisha hanya dihabiskan di dalam rumah. Sampai suatu hari, Alisha tertarik pada laki-laki yang membersihkan kolam renang di rumahnya bernama Bari (Donny Alamsyah). Selama beberapa hari, dia mencuri pandang pada Bari hingga masa kerja Bari usai. Alisha mencari bari dan mengikutinya sampai ke tempat tinggalnya, yakni di sebuah rumah susun. Di rumah susun tersebut, berbagai karakteristik orang hidup di sana. Dan di rumah susun itu jugalah, kisah Alisha, Bari, dan Renta (Kinaryosih) dimulai. 

Mungkin, film ini adalah film Indonesia dengan genre thriller psikologi pertama yang mendapat acungan jempol dari saya. Saya tidak terlalu ingat apakah film-film dulu ada yang mengambil genre sama seperti Fiksi. Yang pasti, sih, Fiksi berkesan buat saya. “Ternyata Indonesia punya juga film kayak gini.” Itulah komentar saya usai menontonnya. Film ini tidak terlalu banyak percakapan. Tapi apa yang ingin disampaikan, dapet banget. Nggak membosankan meski minim percakapan. Akting pemainnya juga bagus. Siapa sangka, sih, Alisha yang pendiam ternyata ‘sakit’. 

Adegan yang paling teringat di benak saya adalah ketika ibunya yang sedang hamil mengunjungi Alisha, mengajaknya ke suatu tempat, mengambil pistol, dan bunuh diri persis di depannya. Awalnya, saya bingung. Siapa wanita itu (ibu Alisha)? Saya pikir, ibu Alisha itu salah satu simpanan ayahnya. Malah, saya juga sempat mikir Alisha itu juga wanita simpanan ayahnya. Habis, Alisha ngomongnya formal banget ke ayahnya. Saya, kan, jadinya nebak-nebak hubungan mereka itu apa. Eh, kok malah melebar ke mana-mana? Kembali ke ibu Alisha yang bunuh diri. Ternyata itu hanya halusinasi, mimpi, atau apa pun itu namanya, yang dialami Alisha. Maaf, saya bingung mengkategorikannya apa. Saya nggak ngerti istilah-istilah psikologi.

Lanjut ke adegan selanjutnya. Karena obsesi Alisha yang begitu besar pada Bari, dia membantu Bari membuat ending untuk cerita-cerita yang dibuat laki-laki itu. Nah, ini nih ‘sakit’-nya Alisha mulai kelihatan. Salut, deh, sama penulis skenarionya. Keren banget ide ceritanya. Fiksi yang di-nyata-kan. Jarang, nih, di Indonesia ambil tema kayak gini. Good job.

Fiksi memang mengambil genre thriller psikologi. Tapi di sini, nggak ada adegan berdarah-darah. Jadi, nggak perlu tutup mata waktu menontonnya. Walaupun begitu, sadisnya si Alisha kerasa banget, kok. Sebenarnya, ‘sakit’-nya Alisha udah kelihatan dari penampilannya. Dia suka memakai baju-baju cantik, seperti baju yang dipakai boneka-bonekanya. Nah loh... sakit kan dia. 

Film ini bagus. Tapi, ada satu hal yang mengganggu pikiran saya. Waktu Alisha kabur, nggak ada orang yang mencarinya. Aneh, kan. Ayahnya kan udah nyewa bodyguard khusus buat Alisha. Tapi, pas Alisha hilang, kok nggak ada yang nyariin. Apa karena si sutradaranya ambil sudut pandang Alisha, ya. Jadi, yang diceritain cuma kejadian-kejadian pas Alisha ada. Hmm... Nggak tahu, deh. Yang jelas, bagian itu mengganggu banget.

Seperti biasa, saya akan memberikan nilai menurut penilaian saya. Ingat. Menurut penilaian saya, lho. Jadi, pasti berbeda dengan penilaian penonton yang lain. Untuk film Fiksi, saya memberikan nilai 8,5/10. Akting pemain dan penceritaannya bagus. Layak tonton, deh. 


Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Fiksi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar