Rabu, 04 November 2015

Heart (2006)


~ “Melalui hatiku yang kini ada di tubuh Luna, dengan cara itu aku mencintaimu.” ~





Ingat Heart, ingat soundtrack-nya. My Heart. Dulu, salah satu media yang digunakan untuk promosi film ini adalah soundtrack-nya. Teringat, dulu para pemain utamanya (Nirina Zubir, Irwansyah, dan Acha Septriasa) tur ke beberapa kota besar di Indonesia terus mampir ke beberapa stasiun radionya buat promosiin nih film. Saya suka soundtrack-nya. Bagus-bagus. Mbak Melly Goeslaw emang jempolan deh kalau bikin lagu. Dulu juga video klip lagunya sering diputar di TV-TV pas iklan. Sekarang, kok jarang ya video klip lagu Indonesia jadi selingan iklan. Padahal, lumayan buat promosi. Apa gara-gara adanya program-program musik di TV ya? Saya pribadi, sih, sangat jarang banget nonton. Jadinya agak kudet lagu Indonesia. Parah, ya. Hehe...

Kembali ke film Heart. Heart dirilis pada Mei 2006. Melalui arahan Hanny Saputra, film berdurasi 125 menit ini sempat booming pada masanya hingga salah satu stasiun TV swasta pun me-remake-nya dalam seri drama (sinetron), kalau tidak salah berjudul Heart Series. Seperti AADC saja ya yang ada versi sinetronnya karena saking terkenal filmnya. Bedanya, kalau sinetron AADC melanjutkan kisah film AADC (Rangga-Cinta udah terpisah), sementara kalau Heart Series mengulang cerita dari awal. Nah kalau persamaannya, para pemain utamanya, yakni yang berperan dalam film dan dalam sinetron tidak ada yang sama alias beda. 

Film Heart bercerita tentang persahabatan Rachel (Nirina Zubir) dan Farrel (Irwansyah) sejak masih kecil hingga dewasa. Keakraban mereka terlihat dari seringnya mereka bersama, saling menceritakan masalah masing-masing, dan bermain basket bersama. Persahabatan mereka baik-baik saja hingga munculnya tokoh Luna (Acha Septriasa) di tengah keduanya. Farrel yang mencintai Luna meminta saran pada Rachel dalam rangka pendekatannya pada Luna tanpa tahu jika Rachel memendam rasa yang sama pada Farrel. Awalnya, Rachel ikut bahagia melihat Farrel dan Luna berbahagia. Namun, itu berubah seiring rasa kehilangan yang Rachel rasakan. Apalagi, ternyata Luna memiliki penyakit sirosis hati yang divonis tak akan bertahan lama bila tidak segera mendapatkan donor hati. 

Persahabatan dan cinta. Heart mengambil tema tersebut untuk filmnya dan tentu masih menargetkan segmen remaja sebagai penontonnya. Tapi, tidak ada seragam putih-abu-abu. Awalnya, saya malah bingung mereka ini umur berapa. Soalnya, tidak ada aktivitas pembelajaran yang diperlihatkan. Yah, pada akhirnya saya tahu jika mereka ini diceritakan masih kuliah. Say thank you buat Farrel karena udah nyebut-nyebut ‘kuliah arsitektur’ dalam ucapannya.

Adegan yang membekas di otak saya... Waktu si Rachel lari-lari mengejar mobil Farrel. Adegan itu seperti menjeritkan suara hatinya yang tak mau kehilangan Farrel meskipun dia sering bilang akan mendukung Farrel dengan Luna. Saya dapat menangkap jelas rasa frustasi yang dialami Rachel. Rachel yang tomboi lebih memilih cara ini untuk meneriakkan apa yang ada dalam hatinya ketimbang menangis semalaman di kamar. Saya suka itu. Pas dengan karakternya.

Adegan selanjutnya, yang paling menyedihkan menurutku adalah saat Rachel masuk UGD setelah jatuh terguling saat berlari. Kebetulan Farrel ada di sana. Saat itu Farrel sedang mengantarkan Luna yang penyakitnya sedang kambuh. Farrel sempat menghampiri Rachel, tapi hanya sebentar lalu kembali lagi pada Luna. Tak terbayangkan betapa sedih perasaan Rachel. Sahabatnya sejak kecil lebih memilih menemani Luna yang jelas-jelas saat itu sudah tidur karena disuntik obat bius daripada menemaninya berjuang melawan rasa sakitnya. Tak adil. Sejak awal si Rachel sudah berkorban perasaan. Bahkan, untuk adegan ini pun dia harus berkorban lagi. Kasihan sekali dia...

Kalau saya bilang, film ini hanya berkisah tentang pengorbanan seorang sahabat. Benar-benar dari awal sampai akhir, Rachel terus berkorban. Bagus, sih, filmnya. Tapi dari pertama kali nonton sampai beberapa kali lagi setelahnya, aku nggak ngerti sama ending-nya. Rachel harus diamputasi dan hal itu membuatnya kehilangan semangat hidup. Lalu, dia memilih mendonorkan hatinya pada Luna agar Luna bisa bertahan hidup karena Luna adalah wanita yang dicintai Farrel. Aku paham bagian itu. Yang nggak aku paham, kenapa Rachel harus mati? Bagaimana caranya dia mati? Tidak mungkin, kan, dia mati gara-gara mendonorkan hatinya? Saya pernah nonton film, pernah juga buat cerita tentang donor hati gitu, jadi saya sudah mencari tahu prosedur donor hati. Hati yang didonorkan, kan, tidak semuanya dan itu artinya si pendonor masih bisa hidup dan bahkan ke depannya bisa kembali beraktivitas. Apa itu sirosis hati harus mendapat donor semua bagian hatinya? Jika memang begitu, bagaimana ceritanya si Rachel bisa mati? Apa dia bunuh diri dulu lalu donor hati atau bagaimana? Pertanyaan itu selalu mengusik pikiran saya tiap kali menonton ulang filmnya. Aneh aja. Menurutku, kurang logis.

Terlepas dari pertanyaan saya itu, saya memberi nilai 7,5/10 untuk film Heart. Saya menikmati filmnya. Soundtrack-nya bagus. Setting tempatnya juga keren-keren. Saya juga suka chemistry persahabatan Rachel-Farrel apalagi waktu mereka masih kecil. Kalau chemistry Farrel-Luna, buat saya kok kesannya dipaksakan ya? Kurang alami, gitu. Tapi, film ini layak kok buat jadi tontonan. Kuncinya: sediakan tissue dan nikmati aja alur filmnya. Dan, penting nih. Jangan terlalu dipikirin ending-nya karena semakin dipikir, kesan ‘bagus’ dari filmnya bakal hilang. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar