~ “Maaf, aku sudah lancang mengundang kamu masuk ke dalam penderitaanku.” ~
Ini film yang diadaptasi dari novel teenlit remaja berjudul sama: Dealova. Saya ingat banget, sebelum menonton filmnya, saya sudah selesai membaca novelnya. Dulu bagi saya yang masih remaja, novel Dealova masuk kategori sangat bagus. Bercerita tentang konflik kehidupan remaja, saya yakin banyak yang menyukai novel tersebut. Novel Dealova pula-lah yang menginspirasi saya untuk menulis. Saya juga pernah membuat novel teenlit. Kalau diingat-ingat lagi, ceritanya nggak jauh berbeda dengan Dealova. Maklum, Dealova dulu benar-benar jadi inspirasi saya. Saya yang berhasil menyelesaikannya (walaupun butuh waktu lama) merupakan sebuah prestasi tersendiri bagi saya. Waktu itu, saya masih mengandalkan tangan ketika menulisnya.
Dealova diproduksi pada tahun 2005 melalui arahan sutradara Dian Sasmita. Saya tidak tahu karya Dian yang lain. Jadi, no comment ya. Dari artikel yang saya baca, awalnya tokoh yang memainkan peran Karra adalah Laudya Cynthia Bella. Tapi karena suatu alasan, Bella batal ikut lalu digantikan dengan Jessica Iskandar. Yang saya suka di film Dealova karena soundtrack-nya yang bagus. Apalagi lagu Dealova-nya Once. Top deh.
Dealova adalah film tentang drama percintaan remaja. Di awal cerita, diperlihatkan Karra (Jessica Iskandar) yang sedang bermain basket sendiri. Tiba-tiba Dira (Ben Joshua) datang dan tanpa aba-aba mengajak duel Karra. Tentu saja si Karra sebal karena Dira seenaknya mengganggu waktu latihan basketnya ditambah ledekan yang dilontarkan cowok itu. Suasana hati Karra makin jelek kala dia mendengar suara permainan band kakaknya. Ingin marah, Karra justru digoda kakaknya. Kemudian, kakaknya mengenalkan Karra pada teman-temannya, termasuk Ibel (Evan Sanders). Inilah awal mula kisah cinta segitiga Dira-Karra-Ibel.
Seperti yang sudah saya bilang, saya membaca novelnya dulu sebelum menonton filmya. Jadi, saya punya high expectation pada filmnya. Apalagi pada sosok Dira yang mempunyai karakter dingin dan apakah feel yang saya rasakan sama seperti waktu membaca novelnya. Nyatanya... saya kecewa. Jujur, saya hanya menontonnya dua kali. Sekali waktu dulu ditayangkan di TV dan yang paling baru, tepat sebelum saya menulis artikel ini. Kesan pertama saya, film ini datar. Dan kesan kedua saya masih sama—film ini datar. Padahal kalau dilihat-lihat, akting pemainnya nggak terlalu buruk, terutama bagi Jessica Iskandar dan Ben Joshua. Akting mereka lumayan-lah untuk kategori pendatang baru. Tapi, kemampuan mereka nggak cukup untuk menghidupkan film ini. Atau yang salah itu sebenarnya di bagian skenarionya, ya? Pergantian scene-nya terlalu cepat. Jadi, kesannya kayak diburu-buru gitu. Berasa nonton film yang dicepetin.
Adegan yang berkesan... apa ya? Mungkin waktu Karra sedih ditinggal mati Dira. Dia kayak orang depresi. Hanya itu sih yang paling bagus menurut saya. Paling kerasa feel-nya kalau dia emang lagi sedih. Hmm... Saya sampai bingung mau komentar apa lagi.
Yang jelas film ini mengecewakan saya hampir di sepanjang cerita. Kalau saya bilang, filmnya nggak bernyawa. Chemistry antarpemainnya nggak dapet. Dira dan Karra yang lagi jatuh cinta aja, terlihat kaku di mata saya. Sama halnya dengan chemistry Karra-Ibel yang juga terlihat kaku. Bahkan sebagai teman pun, chemistry mereka masih kurang kerasa. Entahlah. Just my opinion, okay?.
Dengan segala kekecewaan yang saya rasakan, saya hanya memberi nilai 4/10. Maaf, jika ada yang tidak setuju dengan penilaian saya. Saran saya bagi yang ingin menonton Dealova, artikel ini jangan diambil hati. Anggap saja belum pernah membacanya. Tonton filmnya. Mungkin, pendapat kamu akan berbeda dengan pendapat saya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar