Jumat, 06 November 2015

Ekskul (2006)

~ “Kasihilah sesamamu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.” ~





Akhir-akhir saya benar-benar keranjingan dengan film-film Indonesia. Alhasil, saya jadi melupakan sejenak film Hollywood, Bollywood, Korea, dan sejenisnya. Tidak hanya film sebenarnya, tapi juga sinetron lama favorit saya. Sayangnya, susah sekali cari sinetron atau ftv Indonesia di internet. Nyari pakai google sampai halaman terakhir juga nggak ketemu. Capek jadinya. Hufh...

Film Ekskul dirilis pada tahun 2006 dan disutradarai oleh sutradara terkenal, Nayato Fio Nuala. Tak perlu diragukan lagi kan kemampuannya? Seperti kebanyakan karya Nayato lain yang pernah saya tonton, suasana suram mendominasi sepanjang film ini. Untungnya, suasana suram itu cocok untuk film yang juga beralur suram ini. Dapat komentar bagus, deh, dari saya. 

Film ini berkisah tentang Joshua (Ramon Y. Tungka) yang merasa tertekan, baik dalam keluarganya maupun sekolahnya. Orang tuanya tak menunjukkan kasih sayangnya pada Joshua dan selalu menyalahkan, menghina, bahkan tak segan memukulnya. Kehidupannya yang buruk juga terjadi di sekolah. Karena gadis paling top di sekolah menyukai Joshua, dia dibully oleh geng yang paling sok di sekolahnya. Parahnya, teman-temannya bukannya membantunya tapi malah menertawakannya. Tapi, ada satu orang gadis yang simpati padanya, yakni Sabina (Sheila Marcia). Sabina peduli pada Joshua dan berusaha mencegahnya ketika Joshua akan melakukan hal nekat.

Saya suka ide cerita filmnya. Jarang ada yang menampilkan film dengan bullying sebagai temanya. Dulu, kasus-kasus bullying tidak semarak sekarang, atau mungkin tak terekspos? Entahlah. Yang pasti film ini keren karena mengambil cerita beda dengan yang lainnya. Dan, film ini menjadi awal mula saya menyukai Ramon. Aktingnya bagus banget. Dia berhasil menghidupkan karakter Joshua. Saya kasih empat jempol buat dia. Hehe...

Bagian yang mengesankan saya... Adegan yang bikin saya terharu... Waktu Joshua mengungkapkan isi hatinya selama ini. Tentang kebenciannya pada teman-temannya juga kebenciannya pada orang tuanya. Adegan ini membuat saya menangis. Sedih mendengarkan suara hati Joshua. Mungkin, curhatan Joshua ini mewakili isi hati siswa yang mengalami bullying. 

Adegan kedua sewaktu Joshua mau menembakkan pistol ke kepalanya. Fokus kamera pada Joshua sebelum Joshua menembakkan pistolnya, terlihat ekspresi wajah Joshua yang tertawa seolah semua itu memang sudah direncanakannya. Mungkin saja. Dia tahu pelurunya hanya satu. Dan, peluru itu ingin digunakan Joshua untuk mengakhiri hidupnya (kayaknya dia sempat nggak sengaja nembak deh. Hmm... nggak tau-lah. Lupa).

Ekskul mengajarkan saya untuk lebih menghargai dan mengasihi orang lain. Bullying dalam bentuk seringan apapun, meski hanya melalui ejekan, tetap saja namanya bullying. Kita tidak pernah tahu efeknya pada korban bullying sampai kita merasakannya sendiri. Beruntunglah bagi mereka yang tak pernah merasakannya. Bagi yang sedang mengalaminya, katakan. Carilah orang dewasa yang bisa dipercaya kemudian ceritakan. Bicaralah agar mereka tahu apa yang kamu rasakan. Dan bagi yang pernah mengalaminya, besarkanlah hati dan maafkan mereka. Memang, butuh waktu tak sebentar untuk melakukannya. Tapi, bukan berarti tidak mungkin, kan?

Akhirnya, saya memberi nilai 10 untuk film ini. Saya suka akting pemainnya, ide ceritanya, terutama penceritaannya yang begitu apik. Terlepas dari kontroversi yang pernah ditimbulkan (silahkan cari artikelnya sendiri), saya harus mengakui film ini benar-benar bagus. Great job. Cukuplah untuk membuka mata akan kisah lain yang mungkin belum semua orang tahu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar